Saturday, March 31, 2018

Kisah Cindelaras - Cerita Rakyat Jawa Timur



Kerajaan Jenggala dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Putra. Raden Putra, Raja Jenggala, mempunyai dua orang istri. Keduanya adalah permaisuri dan selir. Selain cantik wajahnya, Sang Permaisuri juga baik budi pekertinya. Sang Selir juga sangat cantik wajahnya. Namun berbeda dengan permaisuri, sang selir buruk kelakuannya.

Raja Putra dan kedua istrinya tadi hidup di dalam istana yang sangat megah dan damai. Hingga suatu hari selir raja merencanakan sesuatu yang buruk pada permaisuri raja. Hal tersebut dilakukan karena selir Raden Putra ingin menjadi permaisuri. Dia sangat iri dengan permaisuri. Dia merencanakan untuk menyingkirkan sang permaisuri dari istana kerajaan, agar perhatian dan kasih sayang Raden Putra semata-mata hanya untuknya. Selir ini juga berharap, agar kerajaan ini nantinya diwariskan kepada anaknya sebagai putra mahkota jika kelak dia jadi permaisuri.

Selir baginda lalu berkomplot dengan seorang tabib istana untuk melaksanakan rencana tersebut. Selir baginda berpura-pura sakit parah. Tabib istana lalu segera dipanggil sang Raja. Setelah memeriksa selir tersebut, sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri

“Siapa yang tega memberikan minuman beracun untuk selir ku? Tanya Raden Putra.

“Permaisuri Paduka sendirilah yang melakukannya.” Jawab sang Selir.” Tampaknya Permaisuri iri hati pada hamba hingga bermaksud membunuh hamba, agar kasih sayang paduka dan kekuasaan kerajaan jatuh ketangannya.”

Mendengar hasutan dari Selir nya Raden Putra sangat murka. Tanpa berpikir panjang Raden Putra mengusir sang permaisuri dari istana kerajaan, bahkan dia memerintahkan patih kerajaan untuk membunuh permaisuri di hutan.

Sang Permaisuri yang tengah mengandung itu terpaksa menerima perlakuan tidak adil dan jahat yang ditimpakan kepadanya. Walaupun, dia sama sekali tidak melakukan seluruh sangkaan yang ditimpakan kepadanya.

Sang Patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke tengah hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuh sang permaisuri. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. “Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh,” kata patih. Patih jenggala kemudian menangkap kelinci dan menyembelih kelinci itu dengan keris pusaka miliknya, kemudian darah si kelinci dibasuhnya pada selendang milik permaisuri. Katanya kepada sang permaisuri.” Hamba akan menghadap Raden Putra dengan membawa selendang paduka serta keris yang berlumur darah ini. Selendang dan keris ini akan hamba jadikan bukti bahwa hamba telah melaksanakan tugas dari Raden Putra.”

“Terima kasih, Paman Patih.” Ujar sang Permaisuri.

Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak laki-laki sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas, gagah, dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur. “Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku.” Setelah tiga minggu, telur itu menetas. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat. Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu sungguh menakjubkan! “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…”

Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya itu dan segera memperlihatkan pada ibunya. Akhirnya ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras kini tahu bahwa dia merupakan darah daging Raden Putra yang merupakan raja Jenggala. Dia juga tahu penyebab ibu dan dirinya diusir dari istana raja. Dalam hatinya muncul niat Cindelaras untuk membuka keburukan selir yang merupakan ibu tirinya.
Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. 

Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. jago kesayangannya dibawanya pula. Dalam perjalanannya, Cinderalas bertemu dengan orang-orang yang sedang mengadu ayam atau lebih dikenal dengan sabung ayam. Ketika mereka melihat Cindelaras membawa ayam jago, mereka pun menantang untuk mengadu.

“Aku tidak mempunyai taruhan.” Ucap Cindelaras.

“Taruhanmu adalah dirimu,” jawab salah seorang penyabung.” Jika ayam jagomu kalah engkau harus bekerja dan mengabdi kepadaku tanpa mendapatkan upah. Sedangkan jika jagomu menang maka aku akan memberikan uang emas ini untukmu.” Si penyabung mengacungkan kantong kain yang berisi uang emas.

Cindelaras awalnya ragu namun ayam jagonya terus meronta-ronta seperti memintanya untuk menerima tantangan itu. Cindelaras akhirnya setuju.

Kedua ayam jago lantas di adu. Hanya dalam beberapa gebrakan saja ayam jago Cindelaras telah dapat mengalahkan musuh-musuhnya. Ayam-ayam jago lainnya yang diadu dengan ayam jago milik Cindelaras pun bertumbangan. Rata-rata mereka hanya sanggup beberapa gebrakan saja sebelum akhirnya terkeok-keok melarikan diri.

Cindelaras sangat banyak mendapatkan uang dan juga perhiasan karena kemenangan ayam jagonya itu. Para penyabung ayam benar-benar terperangah mendapati keperkasaan ayam jago Cindelaras. Berita perihal kehebatan ayam jago Cindelaras pun segera menyebar. Banyak penyabung dari berbagai daerah menemui Cindelaras untuk mengadu ayam. Namun ayam jago Cindelaras benar-benar luar biasa, semua bisa dikalahkan dalam beberapa gebrakan pertarungan saja.

“Tampaknya hanya ayam jago milik Gusti Prabu Raden Putra saja yang dapat menandingi ayam jago milik anak ini.” Kata salah seorang penyabung.” Sama halnya dengan ayam jago milik anak ini, ayam jago milik gusti prabupun tidak pernah terkalahkan. Pertarungan kedua ayam ini pasti sangat seru.”

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat hingga sampai ke Istana. Raden Putra akhirnya pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana. “Hamba menghadap paduka,” kata Cindelaras dengan santun. “Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata,” pikir baginda. 

Ayam Cindelaras akhirnya diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kerajaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. 

“Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” Tanya Baginda Raden Putra. 

Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…,” ayam jantan itu berkokok berulang-ulang.

Raden Putra sangat terkejut mendengar kokok ayam Cindelaras yang aneh. Diperhatikannya baik-baik Cindelaras yang tetap berdiri dengan sikap hormat dan gagah.” Cindelaras benarkah apa yang dikatakan ayam jagomu itu.” Tanya Raden Putra.

“ Benar gusti prabu. Hamba adalah putra gusti prabu, ibu hamba adalah permaisuri gusti prabu yang saat ini tinggal di hutan.”

Raden Putra terlihat bingung. Menurutnya permaisurinya telah meninggal dunia ditangan patih yang mengemban titahnya. Melihat rajanya terlihat bingung, patih jenggala segera maju kedepan menghampiri sang raja. Patih Jenggala kemudian menceritakan semua peristiwa yang sesungguhnya terjadi pada permaisuri, bagaimana dia tidak jadi membunuh sang permaisuri karena mengetahui bahwa permaisuri tidak bersalah melainkan korban fitnah dari orang lain.
“ Fitnah? Fintah siapa?” Tanya sang Raja.
“ Fitnah dari selir sri baginda yang bekerjasama dengan tabib istana.” Jawab Patih Jenggala.
Sang Selir dan Tabib istana segera dipanggil oleh Raja Raden Putra. Keduanya tidak dapat mengelak setelah persidangan memberikan bukti-bukti kejahatan mereka. Sang Raden Putra memberi hukuman berat kepada keduanya yaitu di asingkan didalam hutan.
Akhirnya kebenaran terungkap. Sang Raja Raden Putra langsung memeluk Cindelaras seraya meminta maaf. Raja Jenggala itu segera memerintahkan para pengawalnya untuk menjemput permaisuri.
Sang Permaisuri kembali ke istana dengan segala kehormatannya. Dia hidup bahagia bersama suami dan anaknya Cindelaras.
Pesan Moral dari Cerita Rakyat Jawa Timur : Kisah Cindelaras adalah
1.      Kebenaran akan mengalahkan kebatilan atau kejahatan. Kecurangan pasti lambat laun akan terlihat dan akan mengalami kekalahan di kemudian hari.
2.      Jangan pernah berjudi karena apapun hasilnya pasti akan merugikan di kemudian hari.

2 comments:

  1. Situs Taruhan Ayam yang terlengkap dan terbaik hanya di Agen BOLAVITA , dengan minimal deposit hanya Rp 50.000 saja sudah bisa mainkan semua permainan yang ada!!

    Support Bank ternama Indonesia dan saat ini juga sudah bisa melakukan transaksi dengan menggunakan OVO !!!

    Cukup mudah dan praktis untuk bermain Judi Sabung Ayam ini !!

    Tunggu apalagi ? Daftar sekarang juga di www.bolavita.vip

    Baca juga :
    1. Cara Daftar Sabung Ayam di BOLAVITA
    2. PROMO PROMO BOLAVITA

    Untuk info selanjutnya, bisa hubungi kami VIA:
    BBM : BOLAVITA / D8C363CA
    Whatsapp : +62812-2222-995
    Livechat 24 Jam

    ReplyDelete