Cerita Rakyat dan Legenda - Terjadinya Kota Banyuwangi. Pada kesempatan kali ini, penulis akan membagikan sebuah cerita rakyat dari
daerah paling ujung sebelah timur dari propinsi Jawa Timur. Siapa yang tak
kenal dengan nama Banyuwangi.
Banyuwangi
yang saat ini menjadi nama kabupaten paling timur Pulau Jawa yang terkenal
dengan julukan The Sunrise of Java
Ada banyak versi tentang asal usul nama
Banyuwangi. Pada kesempatan kali ini penulis akan membagikan cerita rakyat asal usul kota
Banyuwangi versi Raden Banterang dan Dewi Surati. Yang akan penulis sebut versi
1
Ceritanya adalah sebagai berikut :
Legenda Asal Usul Kota Banyuwangi - versi 1
Dahulu kala, di ujung timur pulau Jawa berdiri sebuah kerajaan yang sangat besar. Kerajaan itu diperintah oleh seorang
raja yang arif dan bijaksana. Raja tersebut mempunya seorang putera bernama
Raden Banterang.
Raden Banterang adalah seorang pemuda yang gagah berani. Tapi sayangnya,
pangeran muda itu sering bertindak gegabah. Ia sering bertindak tanpa
memikirkan lebih dahulu akibat perbuatannya.
Raden Banterang mempunyai hobi berburu. Pada suatu hari, Raden
Banterang pergi ke hutan untuk berburu. Ia mengejar seekor rusa hingga jauh ke
tengah hutan. Namun tiba-tiba saja ditengah hutan ia bertemu dengan seorang
gadis. Raden Banterang merasa heran, mengapa gadis cantik itu berada
sendirian di tengah hutan?
Raden Banterang segera menghampiri gadis itu dan bertanya. “Siapa kamu?
Mengapa kamu ada di hutan ini?”
“Namaku Surati. Ayahku raja kerajaan Klungkung. Ayahanda terbunuh dalam
peperangan. Musuh mengejarku, namun aku berhasil lari dan bersembunyi di hutan
ini,” Jawab gadis itu.
Raut muka Surati menjadi sedih dan air matanya mengalir. “Entah bagaimana
nasib ibu dan kakakku. Kami terpisah.” Sambungnya sambil terisak-isak.
Raden Banterang merasa sangat iba
mendengar cerita Surati. Ia kemudian mengajak gadis itu pulang ke istana.
Beberapa hari kemudian mereka menikah. Kabar pernikahan mereka menyebar
kesegala pelosok negeri.
Pada suatu hari, seperti biasa Raden Banterang pergi berburu.
Isterinya mengantarkannya ke gerbang istana.
Di tepi hutan, Raden Banterang bertemu dengan seorang pengemis
berpakaian robek-robek. Raden Banterang memberikan sedekah kepada
pengemis itu.
“Tuanku,” kata pengemis, “Aku akan memberitahukan sebuah rahasia
kepadamu.”
“Rahasia?” sahut Raden Banterang, “Coba ceritakan kepadaku.”
“Tuan,” kata pengemis, “Berhati-hatilah pada isteri tuan. Ia minta bantuan
seorang laki-laki untuk membunuh tuanku.”
Raden Banterang tertawa geli. “Wah, pengemis ini pasti kurang waras
pikirannya. Bagaimana mungkin Surati yang begitu lemah lembut tega melakukan
itu? Lagi pula pengemis ini kan tidak kenal aku dan isteriku?” Begitu pikirnya.
Pengemis itu berkata, “ Tuan akan percaya kepadaku bila melhat
bukti kejahatannya. Isteri tuankui menyimpan barang milik
laki-laki itu di bawah bantalnya.” Kemudian ia pergi.
Raden Banterang pulang ke istana. Ia merasa gelisah. Sesungguhnya ia tidak
percaya kepada pengemis itu, namun
kata-kata yang diucapkannya tadi terus mengganggu pikirannya. Untuk membuktikan
rasa penasarannya, ia kemudian menuju tempat tidurnya dan mengangkat bantal
isterinya. Betapa terkejutnya ketika ia menemukan sebuah ikat kepala laki-laki
di bawah bantal itu.
Raden Banterang menjadi sangat marah. Beraninya Surati yang dulu hidup
sebatang kara di hutan, yang ditolong dan kemudian dinikahinya sekarang
berbuat keji kepadanya. “Sebelum ia mencelakaiku, lebih baik aku berjaga-jaga.”
Raden Banterang lalu mengajak isterinya berjalan-jalan di tepi sungai. Ia
kemudian menceritakan pertemuannya dengan pengemis di hutan.
“Kanda,” Sahut Surati, “Jangan percaya cerita pengemis itu, saya tidak
pernah memiliki niat jahat kepada kanda.”
“Ini apa?” kata Raden Bentareng sambil menunjukkan ikat kepala yang
ditemukannya.
Surati kemudian menuturkan bahwa setelah suaminya berangkat berburu, ia
bertemu dengan seorang pengemis berpakaian robek-robek di gerbang istana.
Ternyata pengemis itu adalah kakak kandungnya, Rupaksa. Surati sangat
gembira karena selama ini ia mengira kakaknya itu sudah meninggal.
Tak disangkanya Rupaksa menyimpan dendam kepada keluarga suaminya.
Rupaksa menyuruhnya membunuh suaminya sendiri untuk membalas dendam. Tapi
Surati tidak mau. Kakaknya sangat marah. Walaupun ia mengatakan bahwa keluarga
suaminya tidak pernah terlibat perang dengan kerajaan Klungkung, kakaknya tetap
ingin membunuh Raden Banterang. Akhirnya Rupaksa memberikan ikat kepalanya
kepada Surati dan menyuruhnya meletakkannya di bawah bantal. Surati memberi
penjelasan kepada suaminya.
“Aku tak percaya kepadamu,” Jawab Raden Banterang kepada isterinya.
“Rencanamu kali ini gagal, namun suatu saat nanti pasti kau mencobanya lagi.”
Raden Banterang menghunus kerisnya dan berjalan mendekati isterinya.
“Kanda,” kata Surati sangat sedih. Tak disangkanya suaminya tidak
mempercayainya, “Aku tidak berdusta. Aku akan membuktikannya. Bila aku bersalah,
air sungai ini akan menjadi keruh dan berbau busuk. Namun sebaliknya bila aku
tidak bersalah, air akan jernih dan berbau wangi”
Surati kemudian melompat ke dalam
sungai sebelum suaminya sempat mencegah. Raden Banterang merasa sedih
karena isterinya tenggelam sekaligus lega karena ia tak perlu membunuh
isterinya sendiri.
Setelah beberapa saat termenung di tepi sungai, Raden Banterang beranjak
hendak pulang. Tiba-tiba bertiup angin bertiup dari arah sungai membawa bau
harum semerbak. Air sungai berubah menjadi jernih bekilauan. Raden Banterang
sangat menyesal. Tahulah ia bahwa isterinya tidak bersalah. Namun
semuanya telah terlambat. “Banyuwangi...., Banyuwangi....!” Katanya
berulang-ulang. Sejak itu tempat itu dikenal sebagai Banyuwangi yang
artinya air yang harum.
Nah, itulah
tadi legenda terjadinya kota Banyuwangi versi 1. Lain kesempatan akan saya ceritakan legenda terjadinya kota banyuwangi versi 2
Jangan lupa ikuti terus blog ini, yaa.
Jangan lupa ikuti terus blog ini, yaa.

No comments:
Post a Comment