Tuesday, February 27, 2018

Cerita Rakyat dan Legenda-Terjadinya Kota Banyuwangi 1


Cerita Rakyat dan Legenda - Terjadinya Kota Banyuwangi. Pada kesempatan kali ini, penulis akan membagikan sebuah cerita rakyat dari daerah paling ujung sebelah timur dari propinsi Jawa Timur. Siapa yang tak kenal dengan nama Banyuwangi.

Banyuwangi yang saat ini menjadi nama kabupaten paling timur Pulau Jawa yang terkenal dengan julukan The Sunrise of Java

Ada banyak versi tentang asal usul nama Banyuwangi. Pada kesempatan kali ini penulis akan membagikan cerita rakyat asal usul kota Banyuwangi versi Raden Banterang dan Dewi Surati. Yang akan penulis sebut versi 1
Ceritanya adalah sebagai berikut :

Legenda Asal Usul Kota Banyuwangi - versi 1



Dahulu kala, di ujung timur pulau Jawa berdiri sebuah kerajaan yang sangat  besar. Kerajaan itu diperintah oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Raja tersebut mempunya seorang putera bernama Raden Banterang.

Raden Banterang adalah seorang pemuda yang gagah berani.  Tapi sayangnya, pangeran muda itu sering bertindak gegabah. Ia  sering bertindak tanpa  memikirkan lebih dahulu akibat perbuatannya.

Raden Banterang mempunyai hobi berburu. Pada suatu hari,  Raden Banterang pergi ke hutan untuk berburu. Ia mengejar seekor rusa hingga jauh ke tengah hutan.  Namun tiba-tiba saja ditengah hutan ia bertemu dengan seorang gadis. Raden Banterang merasa heran, mengapa  gadis cantik itu berada sendirian di tengah hutan?

Raden Banterang segera menghampiri gadis itu dan bertanya. “Siapa kamu? Mengapa kamu ada di hutan ini?”

“Namaku Surati. Ayahku raja kerajaan Klungkung. Ayahanda terbunuh dalam peperangan. Musuh mengejarku, namun aku berhasil lari dan bersembunyi di hutan ini,” Jawab gadis itu.

Raut muka Surati menjadi sedih dan air matanya mengalir. “Entah bagaimana nasib ibu dan kakakku. Kami terpisah.” Sambungnya sambil terisak-isak.

Raden Banterang merasa sangat  iba mendengar cerita Surati. Ia kemudian mengajak gadis itu pulang ke istana. Beberapa hari kemudian mereka menikah. Kabar pernikahan mereka menyebar kesegala pelosok negeri.

Pada suatu hari, seperti biasa Raden Banterang pergi berburu.  Isterinya mengantarkannya  ke gerbang istana.

Di tepi hutan, Raden Banterang  bertemu dengan seorang pengemis berpakaian robek-robek. Raden Banterang  memberikan sedekah  kepada pengemis itu.

“Tuanku,” kata pengemis, “Aku akan memberitahukan sebuah rahasia kepadamu.” 
“Rahasia?” sahut Raden Banterang, “Coba ceritakan kepadaku.”

“Tuan,” kata pengemis, “Berhati-hatilah pada isteri tuan. Ia minta bantuan seorang laki-laki untuk membunuh tuanku.”

Raden Banterang tertawa geli. “Wah, pengemis ini pasti kurang waras pikirannya. Bagaimana mungkin Surati yang begitu lemah lembut tega melakukan itu? Lagi pula pengemis ini kan tidak kenal aku dan isteriku?” Begitu pikirnya.

Pengemis itu berkata, “ Tuan akan  percaya kepadaku bila melhat bukti  kejahatannya. Isteri  tuankui menyimpan barang  milik laki-laki itu di bawah bantalnya.” Kemudian ia pergi.

Raden Banterang pulang ke istana. Ia merasa gelisah. Sesungguhnya ia tidak percaya kepada  pengemis itu, namun kata-kata yang diucapkannya tadi terus mengganggu pikirannya. Untuk membuktikan rasa penasarannya, ia kemudian menuju tempat tidurnya dan mengangkat bantal isterinya. Betapa terkejutnya ketika ia menemukan sebuah ikat kepala laki-laki di bawah bantal itu.

Raden Banterang menjadi sangat marah. Beraninya Surati yang dulu hidup sebatang kara di hutan, yang ditolong dan kemudian dinikahinya  sekarang berbuat keji kepadanya. “Sebelum ia mencelakaiku, lebih baik aku berjaga-jaga.”

Raden Banterang lalu mengajak isterinya berjalan-jalan di tepi sungai. Ia kemudian menceritakan pertemuannya dengan  pengemis di hutan.

“Kanda,” Sahut Surati, “Jangan percaya cerita pengemis  itu, saya tidak pernah memiliki niat jahat kepada kanda.”

“Ini apa?” kata Raden Bentareng sambil menunjukkan ikat kepala yang ditemukannya.

Surati kemudian menuturkan bahwa setelah suaminya berangkat berburu, ia bertemu dengan seorang pengemis berpakaian robek-robek di gerbang istana.  Ternyata pengemis itu adalah kakak kandungnya, Rupaksa. Surati sangat gembira karena selama ini ia mengira kakaknya itu sudah meninggal.

Tak disangkanya Rupaksa  menyimpan dendam kepada keluarga suaminya. Rupaksa menyuruhnya membunuh suaminya sendiri untuk membalas dendam. Tapi Surati tidak mau. Kakaknya sangat marah. Walaupun ia mengatakan bahwa keluarga suaminya tidak pernah terlibat perang dengan kerajaan Klungkung, kakaknya tetap ingin membunuh Raden Banterang. Akhirnya Rupaksa memberikan ikat kepalanya kepada Surati dan menyuruhnya meletakkannya di bawah bantal. Surati memberi penjelasan kepada suaminya.

“Aku tak percaya kepadamu,” Jawab Raden Banterang kepada isterinya. “Rencanamu kali ini gagal, namun suatu saat nanti pasti kau mencobanya lagi.”

Raden Banterang menghunus kerisnya dan berjalan mendekati isterinya.

“Kanda,” kata Surati sangat sedih. Tak disangkanya suaminya tidak mempercayainya, “Aku tidak berdusta. Aku akan membuktikannya. Bila aku bersalah,  air sungai ini akan menjadi keruh dan berbau busuk. Namun sebaliknya bila aku tidak bersalah, air akan  jernih dan berbau wangi”

Surati  kemudian melompat ke dalam sungai sebelum suaminya sempat mencegah.  Raden Banterang merasa sedih karena isterinya tenggelam sekaligus lega karena ia tak perlu membunuh isterinya sendiri.

Setelah beberapa saat termenung di tepi sungai, Raden Banterang beranjak hendak pulang. Tiba-tiba bertiup angin bertiup dari arah sungai membawa bau harum semerbak. Air sungai berubah menjadi jernih bekilauan. Raden Banterang sangat menyesal. Tahulah ia bahwa isterinya tidak bersalah.  Namun semuanya telah terlambat. “Banyuwangi...., Banyuwangi....!” Katanya berulang-ulang. Sejak itu tempat itu dikenal sebagai Banyuwangi  yang artinya air yang harum. 


Nah, itulah tadi legenda terjadinya kota Banyuwangi versi 1. Lain kesempatan akan saya ceritakan legenda terjadinya kota banyuwangi versi 2

Jangan lupa ikuti terus blog ini, yaa.

Sunday, February 25, 2018

Cerita Rakyat dan Legenda - Timun Mas




Cerita Rakyat dan Legenda - Timun Mas berasal dari provinsi Jawa Tengah. Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seorang anak pun. Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak.

Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun. Lalu menyuruh mereka menanam biji mentimun itu, karena dengan begitu mereka akan mempunyai anak. Suami istri itu tentu saja sangat gembira.


"Tapi kalian janganlah senang dulu. Kalian harus menyerahkan anak perempuan kalian nanti, tepat di usianya yang ke-17. Bagaimana, apa kalian setuju dengan syaratku ini?" sahut Raksasa. Dikarenakan begitu besarnya keinginan mereka untuk mempunyai anak, maka tanpa pikir panjang suami istri itu lalu menyetujui syarat tersebut.

Setelah raksasa itu pergi, mereka segera menanam biji tanaman itu. Beberapa bulan kemudian berbuahlah tanaman mentimun itu. Buahnya sungguh segar dan banyak. Diantara buah buahan itu, ada sebuah mentimun yang sangat besar dan berwarna keemasan.

Ketika buah itu masak, mereka pun memetiknya. Dengan hati-hati mereka membelah buah itu. Betapa terkejutnya mereka, di dalam buah itu terdapat bayi perempuan.
Karena berasal dari dalam buah mentimun, maka mereka memberi nama bayi itu dengan sebutan Timun Mas.

Tujuh belas tahun telah berlalu. Timun Mas telah menjadi seorang gadis yang cantik. Keluarga itu sangat bahagia semenjak adanya Timun Mas. Namun kebahagiaan itu berganti kecemasan tatkala Raksasa datang untuk menagih janjinya. Sang petani pun mencoba mengulur waktu. Akan tetapi, sang Raksasa sudah tidak sabar lagi. Si Petani pun mengambil kantung ajaib yang disimpannya. Ia segera memberikannya kepada Timun Mas.

"Anakku, cepatlah pergi, ingat gunakan isi kantong ajaib itu untuk keselamatanmu," Pesan orang tuanya sambil menyerahkan sebuah kantung kain. Kantung itu berisi tiga macam benda, yakni: garam, cabai, dan terasi.

Timun Mas pun segera melarikan diri melalui jalan belakang. Ketika raksasa telah mendekatinya, Timun Mas segera mengambil segenggam garam dan menaburkannya ke arah Raksasa. Tiba-tiba sebuah laut yang luas pun terhampar. Untuk beberapa saat, raksasa itu terhalang olehnya. Namun dengan segera raksasa itu bisa menyusul Timun Mas setelah berhasil menyeberang. Ketika Timun Mas hampir tertangkap, ia kembali mengambil segenggam cabai dan melemparkannya kehadapan Raksasa jahat itu. Seketika itu cabai yang dilemparkan Timun Mas berubah menjadi pohon dengan ranting dan duri yang tajam. Dan sesaat Raksasa itu terperangkap didalamnya. Akan tetapi, Raksasa berhasil keluar dan hampir menangkap Timun Mas. Maka Timun Mas pun segera melemparkan senjatanya yang terakhir, yaitu segenggam terasi udang. Ajaib, seketika itu sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa itu berusaha menyeberanginya. namun ia tersedot ke dalamnya hingga ia tak bisa bernapas lalu tenggelam.

Raksasa jahat itu telah binasa dan Timun Mas pun kembali ke rumah orang tuanya. "Terima kasih, Tuhan. Kau telah menyelamatkan anakku," Kata mereka gembira menyambut kedatangan putrinya. Akhirnya mereka dapat hidup bahagia tanpa ketakutan lagi.