Kerajaan
Jenggala dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Putra. Raden Putra, Raja
Jenggala, mempunyai dua orang istri. Keduanya adalah permaisuri dan selir.
Selain cantik wajahnya, Sang Permaisuri juga baik budi pekertinya. Sang Selir
juga sangat cantik wajahnya. Namun berbeda dengan permaisuri, sang selir buruk
kelakuannya.
Raja Putra dan kedua istrinya tadi hidup di dalam istana yang sangat megah dan damai. Hingga suatu hari selir raja merencanakan sesuatu yang buruk pada permaisuri raja. Hal tersebut dilakukan karena selir Raden Putra ingin menjadi permaisuri. Dia sangat iri dengan permaisuri. Dia merencanakan untuk menyingkirkan sang permaisuri dari istana kerajaan, agar perhatian dan kasih sayang Raden Putra semata-mata hanya untuknya. Selir ini juga berharap, agar kerajaan ini nantinya diwariskan kepada anaknya sebagai putra mahkota jika kelak dia jadi permaisuri.
Raja Putra dan kedua istrinya tadi hidup di dalam istana yang sangat megah dan damai. Hingga suatu hari selir raja merencanakan sesuatu yang buruk pada permaisuri raja. Hal tersebut dilakukan karena selir Raden Putra ingin menjadi permaisuri. Dia sangat iri dengan permaisuri. Dia merencanakan untuk menyingkirkan sang permaisuri dari istana kerajaan, agar perhatian dan kasih sayang Raden Putra semata-mata hanya untuknya. Selir ini juga berharap, agar kerajaan ini nantinya diwariskan kepada anaknya sebagai putra mahkota jika kelak dia jadi permaisuri.
Selir
baginda lalu berkomplot dengan seorang tabib istana untuk melaksanakan rencana
tersebut. Selir baginda berpura-pura sakit parah. Tabib istana lalu segera
dipanggil sang Raja. Setelah memeriksa selir tersebut, sang tabib mengatakan
bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri
“Siapa yang
tega memberikan minuman beracun untuk selir ku? Tanya Raden Putra.
“Permaisuri
Paduka sendirilah yang melakukannya.” Jawab sang Selir.” Tampaknya Permaisuri
iri hati pada hamba hingga bermaksud membunuh hamba, agar kasih sayang paduka
dan kekuasaan kerajaan jatuh ketangannya.”
Mendengar
hasutan dari Selir nya Raden Putra sangat murka. Tanpa berpikir panjang Raden
Putra mengusir sang permaisuri dari istana kerajaan, bahkan dia memerintahkan
patih kerajaan untuk membunuh permaisuri di hutan.
Sang
Permaisuri yang tengah mengandung itu terpaksa menerima perlakuan tidak adil
dan jahat yang ditimpakan kepadanya. Walaupun, dia sama sekali tidak melakukan
seluruh sangkaan yang ditimpakan kepadanya.
Sang Patih
segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke tengah hutan belantara.
Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuh sang permaisuri. Rupanya sang
patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. “Tuan putri tidak perlu
khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba
bunuh,” kata patih. Patih jenggala kemudian menangkap kelinci dan menyembelih
kelinci itu dengan keris pusaka miliknya, kemudian darah si kelinci dibasuhnya
pada selendang milik permaisuri. Katanya kepada sang permaisuri.” Hamba akan
menghadap Raden Putra dengan membawa selendang paduka serta keris yang berlumur
darah ini. Selendang dan keris ini akan hamba jadikan bukti bahwa hamba telah
melaksanakan tugas dari Raden Putra.”
“Terima
kasih, Paman Patih.” Ujar sang Permaisuri.
Setelah
beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak laki-laki sang permaisuri. Bayi
itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang
cerdas, gagah, dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang
penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali
menjatuhkan sebutir telur. “Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan
telur itu kepadaku.” Setelah tiga minggu, telur itu menetas. Cindelaras
memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam
jantan yang bagus dan kuat. Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu
sungguh menakjubkan! “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba,
atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…”
Cindelaras sangat
takjub mendengar kokok ayamnya itu dan segera memperlihatkan pada ibunya.
Akhirnya ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di
hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras kini tahu bahwa dia merupakan
darah daging Raden Putra yang merupakan raja Jenggala. Dia juga tahu penyebab
ibu dan dirinya diusir dari istana raja. Dalam hatinya muncul niat Cindelaras
untuk membuka keburukan selir yang merupakan ibu tirinya.
Cindelaras
bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda.
Setelah di
ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. jago
kesayangannya dibawanya pula. Dalam perjalanannya, Cinderalas bertemu dengan
orang-orang yang sedang mengadu ayam atau lebih dikenal dengan sabung ayam.
Ketika mereka melihat Cindelaras membawa ayam jago, mereka pun menantang untuk
mengadu.
“Aku tidak
mempunyai taruhan.” Ucap Cindelaras.
“Taruhanmu
adalah dirimu,” jawab salah seorang penyabung.” Jika ayam jagomu kalah engkau
harus bekerja dan mengabdi kepadaku tanpa mendapatkan upah. Sedangkan jika
jagomu menang maka aku akan memberikan uang emas ini untukmu.” Si penyabung
mengacungkan kantong kain yang berisi uang emas.
Cindelaras
awalnya ragu namun ayam jagonya terus meronta-ronta seperti memintanya untuk
menerima tantangan itu. Cindelaras akhirnya setuju.
Kedua ayam
jago lantas di adu. Hanya dalam beberapa gebrakan saja ayam jago Cindelaras
telah dapat mengalahkan musuh-musuhnya. Ayam-ayam jago lainnya yang diadu
dengan ayam jago milik Cindelaras pun bertumbangan. Rata-rata mereka hanya
sanggup beberapa gebrakan saja sebelum akhirnya terkeok-keok melarikan diri.
Cindelaras
sangat banyak mendapatkan uang dan juga perhiasan karena kemenangan ayam
jagonya itu. Para penyabung ayam benar-benar terperangah mendapati keperkasaan
ayam jago Cindelaras. Berita perihal kehebatan ayam jago Cindelaras pun segera
menyebar. Banyak penyabung dari berbagai daerah menemui Cindelaras untuk
mengadu ayam. Namun ayam jago Cindelaras benar-benar luar biasa, semua bisa
dikalahkan dalam beberapa gebrakan pertarungan saja.
“Tampaknya
hanya ayam jago milik Gusti Prabu Raden Putra saja yang dapat menandingi ayam
jago milik anak ini.” Kata salah seorang penyabung.” Sama halnya dengan ayam
jago milik anak ini, ayam jago milik gusti prabupun tidak pernah terkalahkan.
Pertarungan kedua ayam ini pasti sangat seru.”
Berita
tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat hingga sampai ke
Istana. Raden Putra akhirnya pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra
menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras ke istana. “Hamba menghadap
paduka,” kata Cindelaras dengan santun. “Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya
ia bukan keturunan rakyat jelata,” pikir baginda.
Ayam Cindelaras akhirnya diadu dengan
ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia
bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kerajaan
Raden Putra menjadi milik Cindelaras.
Dua ekor
ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam
Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai
mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya.
“Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan
menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” Tanya Baginda
Raden Putra.
Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada
ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. “Kukuruyuk… Tuanku
Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden
Putra…,” ayam jantan itu berkokok berulang-ulang.
Raden Putra
sangat terkejut mendengar kokok ayam Cindelaras yang aneh. Diperhatikannya
baik-baik Cindelaras yang tetap berdiri dengan sikap hormat dan gagah.”
Cindelaras benarkah apa yang dikatakan ayam jagomu itu.” Tanya Raden Putra.
“ Benar
gusti prabu. Hamba adalah putra gusti prabu, ibu hamba adalah permaisuri gusti
prabu yang saat ini tinggal di hutan.”
Raden Putra
terlihat bingung. Menurutnya permaisurinya telah meninggal dunia ditangan patih
yang mengemban titahnya. Melihat rajanya terlihat bingung, patih jenggala
segera maju kedepan menghampiri sang raja. Patih Jenggala kemudian menceritakan
semua peristiwa yang sesungguhnya terjadi pada permaisuri, bagaimana dia tidak
jadi membunuh sang permaisuri karena mengetahui bahwa permaisuri tidak bersalah
melainkan korban fitnah dari orang lain.
“ Fitnah?
Fintah siapa?” Tanya sang Raja.
“ Fitnah
dari selir sri baginda yang bekerjasama dengan tabib istana.” Jawab Patih
Jenggala.
Sang Selir
dan Tabib istana segera dipanggil oleh Raja Raden Putra. Keduanya tidak dapat
mengelak setelah persidangan memberikan bukti-bukti kejahatan mereka. Sang
Raden Putra memberi hukuman berat kepada keduanya yaitu di asingkan didalam
hutan.
Akhirnya
kebenaran terungkap. Sang Raja Raden Putra langsung memeluk Cindelaras seraya
meminta maaf. Raja Jenggala itu segera memerintahkan para pengawalnya untuk
menjemput permaisuri.
Sang
Permaisuri kembali ke istana dengan segala kehormatannya. Dia hidup bahagia
bersama suami dan anaknya Cindelaras.
Pesan Moral
dari Cerita Rakyat Jawa Timur : Kisah Cindelaras adalah
1. Kebenaran akan mengalahkan kebatilan
atau kejahatan. Kecurangan pasti lambat laun akan terlihat dan akan mengalami
kekalahan di kemudian hari.
2. Jangan pernah berjudi karena apapun
hasilnya pasti akan merugikan di kemudian hari.

Situs Taruhan Ayam yang terlengkap dan terbaik hanya di Agen BOLAVITA , dengan minimal deposit hanya Rp 50.000 saja sudah bisa mainkan semua permainan yang ada!!
ReplyDeleteSupport Bank ternama Indonesia dan saat ini juga sudah bisa melakukan transaksi dengan menggunakan OVO !!!
Cukup mudah dan praktis untuk bermain Judi Sabung Ayam ini !!
Tunggu apalagi ? Daftar sekarang juga di www.bolavita.vip
Baca juga :
1. Cara Daftar Sabung Ayam di BOLAVITA
2. PROMO PROMO BOLAVITA
Untuk info selanjutnya, bisa hubungi kami VIA:
BBM : BOLAVITA / D8C363CA
Whatsapp : +62812-2222-995
Livechat 24 Jam
Panduan Bermain Slot Turkish Nights Ayo Daftar Sekarang Juga Dan Dapatkan Bonus Berlimpah !!!
ReplyDelete