Cerita Rakyat dan Legenda - Terjadinya Kota Banyuwangi. Seperti yang sudah penulis janjikan kemarin, bahwa
penulis akan menyampaikan cerita atau legenda terjadinya kota Banyuwangi versi
lain.
Begini ceritanya:
Agar tercapai hasrat sang raja untuk membujuk dan merayu Sri Tanjung maka tebersit akal licik dalam pikirannya. Sang Raja kemudian memberikan perintah kepada Patih Sidopekso untuk menjalankan tugas yang tidak mungkin bisa dicapai oleh manusia biasa. Yakni mengambil bunga Wijaya Kusuma, yang mana letak bunga tersebut sangat jauh dan sukar dijangkau oleh siapapun. Namun Patih Sidopekso adalah seorang yang sakti mandraguna. Maka dengan gagah berani dan tanpa rasa curiga, sang Patih berangkat untuk menjalankan titah Sang Raja.
Sepeninggal Sang Patih Sidopekso, Prabu Sulahkromo bersikap tak senonoh dengan merayu dan menggoda Sri Tanjung dengan segala tipu daya dilakukannya. Namun cinta Sang Raja tidak kesampaian karena Sri Tanjung tetap teguh pendiriannya, sebagai istri yang selalu setia pada suaminya. Panas membara hati Sang Raja ketika cintanya ditolak oleh Sri Tanjung. Begitu dendamnya Prabu Sulahkromo sehingga berniat untuk menyingkirkan Sri Tanjung dengan cara halus.
Ketika Patih Sidopekso kembali dari misi tugasnya, ia langsung menghadap Sang Raja. Pada saat itulah akal busuk Sang Raja muncul. Ia memfitnah istri Patih Sidopekso dengan mengatakan bahwa sepeninggal Sang Patih menjalankan titah raja meninggalkan istana, Sri Tanjung mendatangi dan merayu serta mengajak berbuat serong dengan Sang Raja.
Tanpa berfikir panjang, Patih Sidopekso langsung menemui Sri Tanjung dengan penuh kemarahan dan melontarkan tuduhan yang tidak beralasan. Patih Sidopekso merasa tidak mungkin Rajanya berbohong. Pasti istrinyalah yang telah berbuat salah.
Pengakuan Sri Tanjung yang lugu dan jujur membuat hati Patih Sidopekso semakin panas menahan amarah. Ia tak percaya dan beranggapan bahwa istrinya memutar balikkan fakta. Bahkan Sang Patih dengan berangnya mengancam akan membunuh istrinya yang sesungguhnya sangat setia. Diseretlah Sri Tanjung ke tepi sungai yang keruh dan kumuh. Namun sebelum Patih Sidopekso membunuh Sri Tanjung, ada permintaan terakhir dari Sri Tanjung kepada suaminya. Sebagai bukti kejujuran, kesucian dan kesetiannya ia rela dibunuh, namun hendaknya jasadnya diceburkan ke dalam sungai yang keruh itu. Apabila darahnya membuat air sungai itu berbau busuk, maka dirinya memang telah berbuat serong, tapi jika air sungai berbau harum maka ia tidak bersalah.
Patih Sidopekso tidak lagi mampu menahan diri, segera menikamkan kerisnya ke dada Sri Tanjung. Darah memercik dari tubuh Sri Tanjung dan mati seketika. Sesuai dengan permintaannya maka mayat Sri Tanjung segera diceburkan ke dalam sungai. Seketika itu pulalah sungai yang keruh itu berangsur-angsur menjadi jernih seperti kaca serta menyebarkan bau harum, bau wangi.
Patih Sidopekso terhuyung-huyung, jatuh dan ia jadi linglung. Betapa sangat menyesalnya dia dengan apa yang telah dilakukannya terhadap istrinya Sri Tanjung. Namun penyesalannya sudah terlamba. Tanpa ia sadari, ia menjerit "Banyu..... ... wangi............... . Banyu wangi ... .." Banyuwangi terlahir dari bukti cinta istri ada suaminya.sejak itulah nama Banyuwangi dipakai sampai saat ini
Legenda
Terjadinya Kota Banyuwangi – Versi 2
Konon, dahulu kala wilayah ujung timur Pulau Jawa terdapat sebuah kerajaan besar
yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Prabu Sulahkromo. Di dalam
menjalankan pemerintahannya, ia dibantu oleh seorang Patih yang gagah berani,
arif, tampan bernama Patih Sidopekso. Patih Sidopekso mempunyai seorang istri yang
bernama Sri Tanjung. Sri Tanjung ini sangatlah elok parasnya, halus budi
bahasanya sehingga membuat sang Raja tergila- gila padanya. Agar tercapai hasrat sang raja untuk membujuk dan merayu Sri Tanjung maka tebersit akal licik dalam pikirannya. Sang Raja kemudian memberikan perintah kepada Patih Sidopekso untuk menjalankan tugas yang tidak mungkin bisa dicapai oleh manusia biasa. Yakni mengambil bunga Wijaya Kusuma, yang mana letak bunga tersebut sangat jauh dan sukar dijangkau oleh siapapun. Namun Patih Sidopekso adalah seorang yang sakti mandraguna. Maka dengan gagah berani dan tanpa rasa curiga, sang Patih berangkat untuk menjalankan titah Sang Raja.
Sepeninggal Sang Patih Sidopekso, Prabu Sulahkromo bersikap tak senonoh dengan merayu dan menggoda Sri Tanjung dengan segala tipu daya dilakukannya. Namun cinta Sang Raja tidak kesampaian karena Sri Tanjung tetap teguh pendiriannya, sebagai istri yang selalu setia pada suaminya. Panas membara hati Sang Raja ketika cintanya ditolak oleh Sri Tanjung. Begitu dendamnya Prabu Sulahkromo sehingga berniat untuk menyingkirkan Sri Tanjung dengan cara halus.
Ketika Patih Sidopekso kembali dari misi tugasnya, ia langsung menghadap Sang Raja. Pada saat itulah akal busuk Sang Raja muncul. Ia memfitnah istri Patih Sidopekso dengan mengatakan bahwa sepeninggal Sang Patih menjalankan titah raja meninggalkan istana, Sri Tanjung mendatangi dan merayu serta mengajak berbuat serong dengan Sang Raja.
Tanpa berfikir panjang, Patih Sidopekso langsung menemui Sri Tanjung dengan penuh kemarahan dan melontarkan tuduhan yang tidak beralasan. Patih Sidopekso merasa tidak mungkin Rajanya berbohong. Pasti istrinyalah yang telah berbuat salah.
Pengakuan Sri Tanjung yang lugu dan jujur membuat hati Patih Sidopekso semakin panas menahan amarah. Ia tak percaya dan beranggapan bahwa istrinya memutar balikkan fakta. Bahkan Sang Patih dengan berangnya mengancam akan membunuh istrinya yang sesungguhnya sangat setia. Diseretlah Sri Tanjung ke tepi sungai yang keruh dan kumuh. Namun sebelum Patih Sidopekso membunuh Sri Tanjung, ada permintaan terakhir dari Sri Tanjung kepada suaminya. Sebagai bukti kejujuran, kesucian dan kesetiannya ia rela dibunuh, namun hendaknya jasadnya diceburkan ke dalam sungai yang keruh itu. Apabila darahnya membuat air sungai itu berbau busuk, maka dirinya memang telah berbuat serong, tapi jika air sungai berbau harum maka ia tidak bersalah.
Patih Sidopekso tidak lagi mampu menahan diri, segera menikamkan kerisnya ke dada Sri Tanjung. Darah memercik dari tubuh Sri Tanjung dan mati seketika. Sesuai dengan permintaannya maka mayat Sri Tanjung segera diceburkan ke dalam sungai. Seketika itu pulalah sungai yang keruh itu berangsur-angsur menjadi jernih seperti kaca serta menyebarkan bau harum, bau wangi.
Patih Sidopekso terhuyung-huyung, jatuh dan ia jadi linglung. Betapa sangat menyesalnya dia dengan apa yang telah dilakukannya terhadap istrinya Sri Tanjung. Namun penyesalannya sudah terlamba. Tanpa ia sadari, ia menjerit "Banyu..... ... wangi............... . Banyu wangi ... .." Banyuwangi terlahir dari bukti cinta istri ada suaminya.sejak itulah nama Banyuwangi dipakai sampai saat ini

No comments:
Post a Comment